Kamis, 19 Desember 2019
Rabu, 06 November 2019
Internet User Growth

The internet is a telecomunications
networks that connecting computer to another computer or other device to the
world wide web. when two computers are connected over the internet they can
send and receive all kinds of infomation.
The ways in which people use the
internet are evolved quickly. The number of people using the internet has
surged over the year, based on the chart we will know how much people that used
the internet from 1995 until 2013.
The chart started in 1995 with 16
million people came online each day and it has been increased until 2800 users
in 2013. increasing internet usersbfrom 1995 until 2013 had an avarage of at
least 1077 millions users.
Jumat, 11 Oktober 2019
Introduction Of Accounting
Introduction Of Accounting
Accounting is a
measuring, translation, or providing certainty about information that will help
managers, investors, tax authorities and other decision makers to make the
allocation of decision resources within companies, organizations, and
government agencies.
Accounting is
the art of measuring, communicating and interpreting financial activities.
Broadly speaking, accounting is also known as "the language of
business". Accounting aims to prepare an accurate financial report so that
it can be used by managers, policy makers, and other interested parties, such
as shareholders, creditors, or owners. Daily records involved in this process
are known as bookkeeping.
Financial accounting is a branch of accounting in which
financial information in a business is recorded, classified, summarized,
interpreted, and communicated. Accounting practitioners are known as
accountants. Certified accountants have certain degrees that differ from
country to country.
Fields Of Accounting:
1.
Financial Accounting
2.
Auditing
3.
Management Accounting
4.
Cost Accounting
5.
Tax Accounting
6.
Budgeting
7.
Governmental Accounting
8.
Education Accounting
Financial
Statement
Financial
statements are records of a company's financial information in an accounting
period that can be used to describe the company's performance. These financial
statements are part of the financial reporting process. Complete financial
statements usually include:
1.
Balance Sheet
2. Income Statement (R / L)
3. Cash Flow
4. Statements Of Change Equity
5. Notes Of Financial Statements.
Requirements
for preparing financial statements:
1.
Relevant, meaning that every financial statement must be in accordance with the
intended use so that it can be useful.
2.
Can be understood, explained in preparing financial statements must use terms
or discuss simple and easy to understand.
3.
Power test, each report produced must be able to prove its truth by an
independent measurer
4.
Neutral, each report must not side with one user only.
5.
On time, financial statements must be provided so that they can be made on the
basis of company decision making
6.
Comparability, this report can be compared with the company's report in the
previous period.
7.
Complete, financial statements must present important financial facts and be
presented in an appropriate manner so as not to mislead the reader.
Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi (10/10/2019
23.00)
http://www.smart-edu.web.id/2017/03/pengertian-jenis-syarat-laporan-keuangan.html (10/10/2019
23.12)
https://id.wikipedia.org/wiki/Laporan_keuangan (10/10/2019
23.23)
Rabu, 09 Oktober 2019
Resume
Dear,
According with the information on job
vacancies. That I known this information from Social Media. I volunteered to join
to the company. In the position as a accounting staff.
Name : Verdi Rusdianto
Saelan
Date Of
Birth : Bogor, 10 Mei 1999
Education : S1-Economy
Address : Kp. Jeprah
RT 01/01, Jonggol, Bogor, Jawa Barat.
Phone Number
: 081398056929
E-mail : verdirusdianto@gmail.com
I have a good conditional physical
and physical health. I can work in a team. And I have a good ability in the
field on accounting. I am familiar with computer based work. Mainly operates MS
office package, such as Excel, Word, PowerPoint, also Zahir and MYOB.
I hope to get the chance to follow
the next test. Had Mr/Mrs can give confidence to me to embark on a career as a
fresh graduate in the field of Accounting Staff.
Similary, letters of job application I
submit, for the attention of Mr/Mrs I thank you.
Best regrads,
Verdi Rusdianto S
Sabtu, 20 Juli 2019
Statistika m13
PENGERTIAN
ASUMSI KLASIK
Uji
asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada
analisis regresi linear berganda yang
berbasis ordinary least square (OLS). Jadi analisis regresi yang tidak
berdasarkan OLS tidak memerlukan persyaratan asumsi klasik, misalnya regresi logistik atau regresi ordinal. Demikian juga
tidak semua uji asumsi klasik harus dilakukan pada analisis regresi linear,
misalnya uji multikolinearitas tidak dilakukan pada analisis regresi linear
sederhana dan uji autokorelasi tidak perlu diterapkan pada data cross
sectional.
Uji
asumsi klasik juga tidak perlu dilakukan untuk analisis regresi linear yang
bertujuan untuk menghitung nilai pada variabel tertentu. Misalnya nilai return
saham yang dihitung dengan market model, atau market adjusted model.
Perhitungan nilai return yang diharapkan dapat dilakukan dengan persamaan
regresi, tetapi tidak perlu diuji asumsi klasik.
ASUMSI-ASUMSI
YANG DITETAPKAN
Secara
teoretis model OLS akan menghasilkan estimasi nilai parameter model penduga yang
sahih bila dipenuhi asumsi Tidak ada Autokorelasi, Tidak
Ada Multikolinearitas, dan Tidak ada Heteroskedastisitas.Apabila
seluruh asumsi klasik tersebut telah terpenuhi maka akan menghasilkan hasil
regresi yang best, linear,unbias, efficient of estimation (BLUE).
MENGAPA
TIDAK SEMUA ASUMSI PERLU DILAKUKAN
Tidak semua uji asumsi
klasik harus dilakukan pada analisis regresi linier, karena sebagian hanya
cukup diasumsikan saja, sedangkan sebagian yang lain dapat memerlukan test.
PENGERTIAN
AUTOKORELASI
Autokorelasi merupakan salah satu
dari uji asumsi klasik yang di gunakan untuk mengetahui apakah dalam suatu
model regresi linear terdapat korelasi antar kesalahan pengganggu dengan
periode t dengan kesalahan periode t-1 yang berarti kondisi saat ini dipengaruhi
oleh kondisi sebelumnya dengan kata lain auto korelasi sering terjadi pada data
time series. Data yang baik adalah data yang tidak terdapat auto korelasi di
dalamnya.
Autokorelasi terbagi dua, ada
autokorelasi positif dan ada autokorelasi negatif. Masalah autokorelasi ini
merupakan masalah error, jadi kedua jenis
autokorelasi di atas juga akan terkait masalah error.
Autokorelasi positif adalah autokorelasi dimana error yang selalu diikuti oleh
error yang sama tandanya. misalnya ketika satu periode sebelumnya positif maka
error berikutnya akan positif. Sebaliknya autokorelasi negatif menyebabkan
error akan diikuti oleh error yang berbeda tanda. misalnya ketika errornya
positif maka akan diikuti oleh error negatif pada periode selanjutnya
FAKTOR-FAKTPR YANG DAPAT MENYEBABKAN
TIMBULNYA MASALAH
·
Kesalahan
dalam pembentukan model, artinya, model yang digunakan untuk menganalisis
regresi tidak didukung oleh teori-teori yang relevan dan mendukung.
·
Tidak memasukkan variabel yang penting. Variabel
penting yang dimaksudkan di sini adalah variabel yang diperkirakan signifikan
mempengaruhi variabel Y.
·
Manipulasi data. Misalnya dalam penelitian
kitaingin menggunakan data bulanan, namun data tersebut tidak tersedia.
Kemudian kita mencoba menggunakan triwulanan yang tersedia, untuk dijadikan
data bulanan melalui cara interpolasi atau ekstrapolasi.
·
Menggunakan data yang tidak empiris. Jika data
semacam ini digunakan, terkesan bahwa data tersebut tidak didukung oleh
realita. Misalnya pengaruh periklanan terhadap penjualan. Kalau dalam
penelitian menggunakan data biaya periklanan bulan ke n dan data penjualan
bulan ke n, besar kemungkinan akan terjadi autokorelasi
SEBAB-SEBAB
TERJADINYA AUTOKORELASI
·
Adanya
kelembaman (inertia), yaitu data observasi pada periode sebelumnya dan periode
sekarang, kemungkinan besar akan mengandung saling ketergantungan (independence)
·
Bisa
spesifikasi model kasus yang tidak dimasukkan. Hal ini disebabkan oleh tidak
dimasukkannya variabel yang menurut teori sangat penting peranannya dalam
menjelaskan variabel terikat (tak bebas). Bila hal ini terjadi, unsur
pengganggu (error term) akan merefleksikan suatu pola yang
sistematis antara sesama unsur pengganggu sehingga terjadi situasi otokorelasi
diantara unsur pengganggu.
·
Adanya
fenomena laba-laba (cobweb phenomenon), yaitu data yang
diperoleh saat ini (X₁) dipengaruhi oleh data sebelumnya (X₀) sehingga data
setelah saat ini/data berikutnya(X₂) memiliki kecenderungan dipengaruhi oleh
data pendahulunya (X₀) sehingga data X₂ memiliki potensi lebih rendah dari data
X₁. Akibatnya error term tidak lagi bersifat acak (random), tetapi mengikuti
pola sarang laba-laba.
·
Manipulasi
data (manipulation of data). Dalam analisis empiris terutama data time series
sering kali terjadi manipulasi data, hal ini terjadi data yang diinginkan tidak
tersedia. Adanya interpolasi atau manipulasi data jelas akan menimbulkan suatu
pola fluktuasi yang tersembunyi yng mengakibatkan munculnya pola sistematis
dalam unsur penggangu dan akhirnya akan menimbulkan masalah autokorelasi.
·
Adanya
kelembaman waktu (time lags). Dalam regresi data time
series, pengaruh psikologis, teknis dan kelembagaan. Jika unsur lag diabaikan
dari suatu mdel yang dibentuk, maka error term yang dihasilkan akan
mencerminkan pola sistematis sebagai akibat pengaruh variabel terikat pada
periode sebelumnya atau periode sekarang.
PENGERTIAN PENGUJIAN AUTOKORELASI
Pengujian
autokorelasi dimaksudkan untuk menguji ada tidaknya autokorelasi, yaitu masalah
lain yang timbul bila kesalahan tidak sesuai dengan batasan yang disyaratkan
oleh analisis regresi. Terdapat beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya
autokorelasi
ASUMSI
PENTING YANG HARUS DIPATUHI DALAM UJI DURBIN-WATSON (DW TEST)
Dalam
DW test ini terdapat beberapa asumsi penting yang harus dipatuhi, yaitu:
· Terdapat intercept dalam
model regresi.
· Variabel
penjelasnya tidak random (nonstochastics).
· Tidak
ada unsur lag dari variabel dependen di dalam model.
· Tidak
ada data yang hilang.
Langkah-langkah
pengujian autokorelasi menggunakan uji Durbin Watson (DW test) dapat dimulai
dari menentukan hipotesis. Rumusan hipotesisnya (H0) biasanya menyatakan bahwa
dua ujungnya tidak ada serial autokorelasi baik positif maupun negatif.
Terdapat
beberapa standar keputusan yang perlu dipedomani ketika menggunakan DW test,
yang semuanya menentukan lokasi dimana nilai DW berada. Jelasnya adalah sebagai
berikut:
DW
< dL = terdapat atokorelasi positif
dL<
DW <dU = tidak dapat disimpulkan (inconclusive)
dU
> DW >4-dU = tidak terdapat autokorelasi
4-dU
< DW <4-dL = tidak dapat disimpulkan (inconclusive)
DW
> 4-dL = terdapat autokorelasi negatif
Dimana
DW
= Nilai Durbin-Watson d statistik
dU
= Nilai batas atas (didapat dari tabel)
dL
= Nilai batas bawah (didapat dari tabel)
Dalam
pengujian autokorelasi terdapat kemungkinan munculnya autokorelasi positif
maupun negatif. Karena adanya masalah korelasi dapat menimbulkan adanya bias
pada hasil regresi.
KONSEKUENSI
ADANYA AUTOKORELASI
1.
Estimator yang dihasilkan masih
unbiased, konsisten, dan asymptotical normally distributed. Tetapi tidak lagi
efisien->varians tidak minimum (tidak BLUE)
2.
Estimasi standard error dan varian
koefisien regresi yang didapat akan ‘underestimate’.
3.
Pemerikasaan terhadap residualnya akan
menemui permasalahan.
4.
Autokorelasi yang kuat dapat pula
menyebabkan dua variabel yang tidak berhubungan menjadi berhubungan. Biasa
disebut spourious regression. Hal ini terlihat dari R2.
CARA
MENDETEKSI MASALAH PADA AUTOKORELASI
1.
Metode Grafik
Metode
ini merupakan metode yang paling sederhana untuk mendeteksi autokorelasi.
Sekaligus merupakan langkah awal untuk mendeteksi autokorelasi. Sesuai dengan
definisinya, metode ini membandingkan antara residual dengan variabel X. selain
itu, dengan membandingkan antara rasidual ke-t dengan residual ke-(t-1).
Suatu grafik
mengindikasikan adanya autokorelasi dapat dilihat dari polanya. Suatu grafik
dikatakan mengandung autokorelasi ketika terdapat pola antara residual dengan
waktu atau antara residual ke-t sampai ke-(t-1).
Pada
bagian (a) terlihat bahwa grafiknya membentuk pola siklus sehingga
diindikasikan terdapat autokorelasi. Hal itu juga didukung dengan grafik antara
raesidual ke-t dengan residual ke-(t-1) yang menunjukkan ada hubungan
liniear..pada gambar tersebut terdapatnya autokorelasi positif dan negatif. Autokorelasi
positif terlihat pada bagian (a) sedangkan autokorelasi negatif pada gambar
bagian (b).
2.
Uji Durbin Watson
Metode
grafik diatas masih memiliki permasalahan. Pada metode ini, adanya
autookorelasi agak sulit untuk ditentukan karena hanya melalui subjektifitas
peneliti. Sehingga, kemungkinan tiap peniliti memiliki pandangan yang
berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian formal yang dapat
dipercaya secara ilmiah. Salah satu cara untuk mengetahui adanya autokorelasi
adalah uji durbin-watson.
hipotesis:
Ho=tidak ada autokorelasi
H1=ada autokorelasi
Statistik Uji :
Setelah mendapatkan statistik uji. Langkah selanjutnya adalah membandingkan dengan tabel DW. Tabel DW tediri atas dua nilai, yaitu batas bawah (dL) dan batas atas(dl) dan batas bawah(du). Berikut beberapa keputusan setelah membandingkan DW.
- Bila d < dL Þ tolak H0; Berarti
ada korelasi yang positif atau kecenderungannya r= 1
- Bila dL < d < dU Þ kita tidak
dapat mengambil kesimpulan apa-apa
- Bila dU < d < 4 – dU Þ jangan
tolak H0; Artinya tidak ada korelasi positif maupun negatif
- Bila 4 – dU < d < 4 – dL Þ
kita tidak dapat mengambil kesimpulan apa-apa
- Bila d > 4 – dL Þ tolak H0;
Berarti ada korelasi negatif
3.
Uji Run
Uji durbin Watson juga
memiliki kelemahan ketika berada antara nilai dL dan dU atau antara (4-dU) dan
(4-dL) maka keputusannya autokorelasi tidak bisa diketahui mempunyai
autokorelasi apa tidak. Sehingga dilakukan uji lain bisa dengan metode grafik
atau metode formal lainnya. Salah satu uji formal yaitu uji run.
Perinsip kerja uji run
sangat sederhana yaitu dengan melihat tanda nilai residual negtaif atau
positif(+) atau negatif (-), tanpa memperhatikan nilainya. Sehingga run yang
dimaksud disini adalah sekelompok nilai residual yang mempunyai tanda sama
secara bertusut-turut.
Contoh:
(++++++)(-----)(+++++)(----)
Hipotesis:
H0=residual random
H1=tidak demikian
Untuk menghitungnya digunakan
beberapa fungsi berikut:
Dimana:
N=jumlah observasi
N1=jumlah run
positif(+)
N2=jumlah run negatif(-)
Dalam melakukan
pengujian hipotesis, digunakan analisis interval kepercayaan :
E(run)-1,96 <= run <= E(run)+1,96 run
E(run)-1,96 <= run <= E(run)+1,96 run
Keputusan:
Apabila nilai Run berada diantara interval tersebut maka terima H0sehingga disimpulkan residualnya random dan tidak adanya unsur autokorelasi.
Apabila nilai Run berada diantara interval tersebut maka terima H0sehingga disimpulkan residualnya random dan tidak adanya unsur autokorelasi.
4.
Uji Breusch-Godfrey(BG)/Lagrange Multiplier(LM)
Uji ini dikembangkan
oleh breusch-bodfrey.
Berdasarkan model
tersebut Breusch-bodfrey mengasumsikan bahwa Ut mengikuti autoregresif ordo
p(AR(p)), sehingga membentuk model berikut:
PENGERTIAN
HETEROSKEDASTISTA
Heteroskedastis
merupakan salah satu dari asumsi regresi yang menetukan dalam keberlanjutan
analisis ini. supaya analisis regresi bisa dilanjutkan maka datanya harus tidak
mengandung unsur heteroskedastis atau bisa disebut homoskedastis.
Heteroskedastis berarti varians error bersyarat X merupakan angka yg tidak
konstan.
Heteroskedastis
banyak ditemui pada data cross-section, karena pengamatan dilakukan pada
individu yang berbeda pada saat yang sama, heteroskedastis tidak hanya terjadi
pada data cross section, data time series juga bisa terkena
heteroskedastis.
TIMBULNYA
HETEROSKEDASTISITAS
Masalah
heteroskedastisitas lebih sering muncul dalam data cross section dari
pada data time series). Karena dalam data cross
section menunjukkan obyek yang berbeda dan waktu yang berbeda pula. Antara
obyek satu dengan yang lainnya tidak ada saling keterkaitan, begitu pula dalam
hal waktu. Sedangkan data time series, antara observasi satu dengan yang
lainnya saling mempunyai kaitan. Ada trend yang cenderung sama.
Sehinggavariance residualnya juga cenderung sama. Tidak seperti
data cross section yang cenderung menghasilkanvariance residual
yang berbeda pula.
KONSEKUENSI HETEROSKEDASTISITAS
Munculnya masalah heteroskedastisitas
yang mengakibatkan nilai Sb menjadi bias, akan berdampak pada nilai t dan nilai
F yang menjadi tidak dapat ditentukan. Karena nilai t dihasilkan dari hasil bagi
antara b dengan Sb. Jika nilai Sb mengecil, maka nilai t cenderung membesar.
Hal ini akan berakibat bahwa nilai t mungkin mestinya tidak signifikan, tetapi
karena Sb nya bias, maka t menjadi signifikan. Sebaliknya, jika Sb membesar,
maka nilai t akan mengecil. Nilai t yang seharusnya signifikan, bisa jadi
ditunjukkan menjadi tidak signifikan. Ketidakmenentuan dari Sb ini dapat
menjadikan hasil riset yang mengacaukan.
CARA MENDETEKSI HETEROSKEDASTISITAS
Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas, dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti uji grafik, uji Park, Uji Glejser,
uji Spearman’s Rank Correlation, dan uji Whyte menggunakan
Lagrange Multiplier (Setiaji, 2004: 18)21.
Pengujian heteroskedastisitas menggunakan uji grafik, dapat
dilakukan dengan membandingkan sebaran antara nilai prediksi variabel terikat
dengan residualnya, yang output pendeteksiannya
akan tertera berupa sebaran data padascatter plot.
Pengujian heteroskedastisitas menggunakan uji Arch,
dilakukan dengan cara melakukan regresi atas residual, dengan model yang dapat
dituliskan e2 = a + By2 + u. Dari hasil regresi tersebut dihitung
nilai R2. Nilai R2 tadi dikalikan dengan jumlah sampel (R2 x N). Hasil
perkalian ini kemudian dibandingkan dengan nilai chi-square (x2) pada derajat
kesalahan tertentu.
PENGERTIAN
MULTIKOLINEARITAS
Multikolinearitas adalah sebuah situasi yang menunjukkan adanya korelasi atau
hubungan kuat antara dua variabel bebas atau lebih dalam sebuah model regresi
berganda. Model regresi yang dimaksud dalam hal ini antara lain: regresi linear, regresi logistik, regresi data panel dan
cox regression.
TIMBULNYA
MULTIKOLINEARITAS
Pengujian
multikolinearitas merupakan tahapan penting yang harus dilakukan dalam suatu
penelitian, karena apabila belum terbebas dari masalah multikolinearitas akan
menyebabkan nilai koefisien regresi (b) masing-masing variabel bebas dan
nilai standar error-nya (Sb) cenderung bias, dalam arti tidak dapat
ditentukan kepastian nilainya, sehingga akan berpengaruh pula terhadap nilai t
(Setiaji, 2004: 26).
CARA MENDETEKSI MULTIKOLINEARITAS
Cara mendeteksi adanya Multikolinearitas di dalam model
regresi adalah dengan cara:
1. Melihat kekuatan korelasi antar variabel bebas. Jika ada korelasi antar variabel bebas > 0,8 dapat diindikasikan
adanya multikolinearitas.
2. Melihat nilai standar error
koefisien regresi parsial. Jika ada nilai standar error > 1, maka dapat
diindikasikan adanya multikolinearitas.
3. Melihat rentang confidence interval.
Jika rentang confidence interval sangat lebar, maka dapat diindikasikan adanya
multikolinearitas.
4. Melihat nilai Condition Index dan
eigenvalue. Jika nilai condition index > 30 dan nilai eigenvalue < 0,001
dapat diindikasikan adanya multikolinearitas.
5. Melihat nilai Tolerance dan Variance
Inflating Factor (VIF). Jika nilai Tolerance < 0,1 dan VIF > 10 dapat
diindikasikan adanya multikolinearitas. Sebagian pakar menggunakan batasan
Tolerance < 0,2 dan VIF > 5 dalam menentukan adanya multikolinearitas.
Para pakar juga lebih banyak menggunakan nilai Tolerance dan VIF dalam
menentukan adanya Multikolinearitas di dalam model regresi linear berganda dibandingkan menggunakan
parameter-parameter yang lainnya. Hal ini juga dalam prakteknya
menggunakan SPSS, kita sudah disuguhkan dengan hasil yang instant, dimana
kita bisa langsung lihat nilai keduanya di dalam output SPSS.
PENGERTIAN
NORMALITAS
Uji Normalitas adalah sebuah
uji yang dilakukan dengan tujuan untuk menilai sebaran data pada
sebuah kelompok data atau variabel, apakah sebaran data tersebut
berdistribusi normal ataukah tidak.
Uji Normalitas berguna untuk
menentukan data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari
populasi normal. Metode klasik dalam pengujian normalitas suatu data tidak
begitu rumit. Berdasarkan pengalaman empiris beberapa pakar statistik, data
yang banyaknya lebih dari 30 angka (n > 30), maka sudah dapat diasumsikan berdistribusi
normal. Biasa dikatakan sebagai sampel besar.
Namun untuk memberikan
kepastian, data yang dimiliki berdistribusi normal atau tidak, sebaiknya
digunakan uji normalitas. Karena belum tentu data yang lebih dari 30 bisa
dipastikan berdistribusi normal, demikian sebaliknya data yang banyaknya kurang
dari 30 belum tentu tidak berdistribusi normal, untuk itu perlu suatu
pembuktian.
TIMBULNYA NORMALITAS
1.
Terdapat data residual dari model
regresi yang memiliki nilai data berada jauh dari himpunan data atau data
ekstrim(outliers), sehingga penyebaran datanya menjadi non-Normal
2.
Terdapat kondisi alami dari data yang
pada dasarnya tidak berdistribusi Normal, berdistribusi lain, seperti :
distribusi binormal, multinormal, eksponensial, gamma, dll.
KONSEKUENSI NORMALITAS
Dalam pengujian normalitas mempunyai dua
kemungkinan, yaitu data berdistribusi normal atau tidak normal. Apabila data
telah berdistribusi normal maka tidak ada masalah karena uji t dan uji F dapat
dilakukan (Kuncoro, 2001: 110). Apabila data tidak normal, maka diperlukan
upaya untuk mengatasi seperti: memotong data yang out
liers, memperbesar sampel, atau melakukan transformasi data.
CARA MENDETEKSI NORMALITAS
1.
Menggunakan metode numerik
yang membandingkan nilai statistik, yaitu antara nilai median dengan
nilaimean. Data dikatakan normal (simetris) jika perbandingan
antara mean dan median menghasilkan nilai yang kurang lebih
sama. Atau apabila nilai mean jika dikurangi nilai median menghasilkan
angka nol. Cara inidisebut ukuran tendensi sentral (Kuncoro,2001: 41).
2.
Menggunakan formula Jarque
Bera (JB test), yang rumusnya tertera sebagai berikut:
dimana:
S = Skewness
(kemencengan) distribusi data
K= Kurtosis
(keruncingan) Skewness sendiri dapat dicari dari formula sebagai berikut:
Kurtosis dapat dicari dengan formula sebagai berikut:
3.
Mengamati sebaran data, dengan melakukan
hitungan-hitungan berapa prosentase data observasi dan berada di area mana.
Untuk menentukan posisi normal dari sebaran data, langkah awal yang dilakukan adalah
menghitung standar deviasi. Standar deviasi dapat dicari melalui rumus sebagai
berikut:
CARA MENANGANI JIKA DATA TIDAK
NORMAL
Mengidentifikasi dan,
jika mungkin, menentukan alasan data tidak normal dan mengatasinya. Karena
ketika data tidak terdistribusi normal , penyebab non - normalitas harus
ditentukan dan tindakan perbaikan yang tepat harus diambil.
Gunakan alat yang tidak
memerlukan asumsi normalitas. Karena, beberapa alat statistik tidak
memerlukan data terdistribusi
normal
Langganan:
Postingan (Atom)
KOMPARASI KORUPSI DI INDONESIA, MALAYASIA DAN KOREA
1. SKOR CPI INDONESIA, MALAYSIA DAN KOREA TAHUN 2016-2020 Dari hasil tabel dan diagram diatas dapat diketahui...
-
Alasan Mengapa Seseorang Cenderung Merubah Perusahaan Perseorangan Menjadi Usaha Perseroan Terbatas Perusahaan Perseorangan Perusahaa...
-
1. SKOR CPI INDONESIA, MALAYSIA DAN KOREA TAHUN 2016-2020 Dari hasil tabel dan diagram diatas dapat diketahui...










